Cerita Amelia Pratiwi, “Tinggalkan Kuliah” Demi Buka Sekolah Darurat untuk Anak Pengungsi di Aceh Tamiang
Aceh Tamiang, Ditjen Vokasi PKPLK - Banjir bandang yang terjadi di Aceh Tamiang pada akhir November 2025 lalu membuat kegiatan belajar mengajar di daerah tersebut terganggu. Meskipun masa belajar semester genap 2026 sudah dimulai pekan ini, beberapa sekolah masih belum bisa sepenuhnya pulih.
Hal inilah yang kemudian mendorong Amelia Pratiwi dan beberapa rekannya untuk menyelenggarakan sekolah darurat bagi anak-anak korban banjir dan juga anak-anak Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Pembina Aceh Tamiang. Sekolah darurat yang disebut "ruang harapan" ini diselenggarakan di SLBN Pembina Aceh Tamiang.
"Kami tidak ingin, dari bencana alam kemudian berlanjut menjadi bencana kebodohan karena banyak sekolah yang belum sepenuhnya pulih," kata Amelia beberapa waktu lalu.
Amelia merupakan putri asli Aceh Tamiang. Ia berasal dari Desa Seumadam, Kejuruan Muda, Aceh Tamiang. Saat bencana banjir bandang terjadi, Amalia sendiri sebenarnya sedang berada di Banda Aceh. Amelia merupakan mahasiswa pascasarjana di Universitas Syah Kuala.
“Alhamdulillahnya, daerah saya tidak terlalu parah terkena banjir. Jadi, saya berpikir apa yang harus saya lakukan untuk membantu adik-adik kita ini. Kuliah juga sedang tidak terlalu sibuk, jadi bagus pulang kampung dan bantu adik-adik,” ujar Amelia.
Berkolaborasi dengan SLBN Pembina Aceh Tamiang, Amelia kemudian mengajak serta rekan-rekannya sesama mahasiswa Aceh Tamiang untuk menyelenggarakan sekolah darurat. Apalagi, pihak sekolah juga masih kesulitan menyelenggarakan aktivitas belajar karena kondisi sekolah yang masih belum sepenuhnya pulih.
Dari ajakan melalui media sosial, minat untuk menyelenggarakan sekolah darurat direspons positif oleh mahasiswa Aceh Tamiang lainnya. Meskipun tak saling kenal, Amelia rupanya berhasil mengumpulkan sejumlah mahasiswa Aceh Tamiang untuk menjadi relawan. Ia pun kemudian membuka ruang harapan di halaman SLBN Pembina Aceh Tamiang.
Proses penyiapan tempat untuk membuka kelas darurat ini juga tidak mudah. Kondisi sekolah yang masih dipenuhi lumpur membuat proses penyiapan tempat untuk kelas inipun memakan waktu sekitar tiga hari untuk pembersihan hingga akhirnya bertepatan dengan hari pertama masuk sekolah, kelas darurat ini berhasil dibuka.
“Hari pertama memang tidak terlalu banyak, tapi hari kedua rupanya banyak sekali yang ikut belajar. Orang tua juga antusias untuk mengantar anaknya ke sini. Mungkin dari pada anaknya tidak ada kegiatan di pengungsian,” ujar Amelia.
Nindia merupakan salah satu orang tua yang mengaku sangat terbantu dengan hadirnya sekolah darurat di SLBN Pembina Aceh Tamiang ini. Nindia memang bukan wali murid di sekolah tersebut. Namun, ia bersemangat untuk mengikuti kan Khaira Amanda putrinya untuk ikut belajar di sekolah darurat ini.
“Jaraknya sebenarnya lumayan dari tempat pengungsian saya ke sekolah ini, tapi daripada anak saya main saja di tempat pengungsian mending kami antarkan saja untuk ikut sekolah,” kata Nindia.
Apalagi, lanjut Nindia, anaknya juga sangat antusias untuk kembali ke sekolah meskipun sekolahnya di TK Pembina masih belum aktif kembali.
“Anaknya sudah tanya-tanya terus kapan kami sekolah, jadi ya sudah saya bawa saja ke sini,” pungkas Nindia.