Dari Uji Kesetaraan sampai Sarjana, Kisah Inspiratif Lulusan PKBM Kini Jadi Guru
Banjar, Ditjen Vokasi PKPLK - Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) memberikan sarana pembelajaran untuk masyarakat yang memiliki keterbatasan pendidikan formal. PKBM pula membawa harapan kepada masyarakat untuk terus melangkah meneruskan pendidikan tinggi. Itulah yang dirasakan oleh Muhammad Asyadi, sebagai alumni PKBM Anggrek Meratus dan kini kembali ke almamaternya sebagai tutor.
Tinggal di lokasi pedalaman Banjar, setelah lulus SMP, ia harus melanjutkan pesantren. Karena di desa tersebut terkenal dengan lingkungan santri, ia pun mendapatkan arahan dari orang tuanya untuk mencari ilmu agama di Martapura. Hanya saja, saat itu, keinginan besarnya untuk belajar membuatnya ingin melanjutkan sekolah.
“Oleh karena itu, saya ikut kelas Paket C di PKBM Anggrek Meratus. Dari situlah hidup saya tidak hanya tentang pondok, tapi juga ilmu dunia,” ungkap Asyadi.
Menurutnya, ilmu agama penting, tetapi ilmu pengetahuan dan teknologi pun tak kalah penting untuk membekali hidup. Saat masa-masa belajar, PKBM memfasilitasi pembelajaran yang tak ia dapatkan di pondok pesantren. Walaupun pembelajaran tiap seminggu tiga kali, ia berhasil mengikuti Ujian Kesetaraan dengan predikat baik.
“Alhamdulillah, saya lulus tahun 2014 dan dapat ijazah SMA. Saya pun bisa melanjutkan ke perguruan tinggi,” ujar Asyadi.
PKBM Bukan tentang Ijazah
Bagi Asyadi, PKBM bukan hanya sekadar mendapatkan ijazah, tetapi juga proses pendidikan untuk meningkatkan kompetensi. Dengan mengikuti kesetaraan ia bisa menggapai mimpi lebih tinggi, yaitu menjadi guru.
Asyadi menerangkan, “Saya ambil sarjana pendidikan, untuk memotivasi teman-teman di lingkungan ini agar tetap mau sekolah dan tetap mau belajar.”
Hingga setelah lulus, Asyadi pun sudah menjadi tutor tetap di PKBM Anggrek Meratus. Menurut Asyadi, pola pikir masyarakat di daerah tersebut masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, bahwa pendidikan di sekolah formal masih menjadi alternatif kedua. Masih banyak anak-anak yang memutuskan untuk pergi ke pondok pesantren.
Walaupun begitu, ia tetap mengajar masyarakat maupun anak-anak yang bersemangat untuk mengambil kesetaraan. Keahliannya di bidang teknologi informasi pun membuat Asyadi dipercaya sebagai perancang aplikasi pembelajaran dan dapodik.
“Dulu pembelajaran masih manual menggunakan kertas, tetapi sekarang sudah kami coba untuk pembelajaran tatap muka, mandiri, dan juga tutorial,” Asyadi bercerita.
Untuk materi-materi yang sulit dijelaskan, Asyadi memilih untuk melakukan pembelajaran tatap muka, sisanya pembelajaran mandiri. Sementara pembelajaran tutorial dimaksudkan untuk mengevaluasi dan membahas hasil dari pembelajaran mandiri.
“Manfaatkan PKBM untuk mengejar pendidikan yang sempat tertunda, sehingga bisa mengejar ketertinggalan pendidikan formal. Karena untuk karier yang gemilang, kita tetap membutuhkan pendidikan,” pesan Asyadi untuk masyarakat. (Zia/NA)