PKBM Reksonegaran Hadirkan Pendidikan Adaptif, Wakil Wali Kota Yogyakarta Berikan Apresiasi

PKBM Reksonegaran Hadirkan Pendidikan Adaptif, Wakil Wali Kota Yogyakarta Berikan Apresiasi

Yogyakarta, Ditjen Diksi PKPLK – PKBM Reksonegaran kembali menunjukkan perannya sebagai lembaga pendidikan nonformal yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat modern. Dalam kunjungan Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, pada minggu lalu (28/11), PKBM menampilkan berbagai inovasi pembelajaran serta pendekatan karakter yang selama ini menjadi ciri khasnya.


Kepala PKBM Reksonegaran, Sudarmaji, yang telah mendampingi lembaga tersebut sejak 2005, menjelaskan bahwa PKBM hadir untuk menjawab kebutuhan pendidikan yang lebih fleksibel, inklusif, dan relevan. Saat ini PKBM Reksonegaran melayani sekitar 180 peserta didik melalui program kesetaraan Paket A, B, dan C. Namun, lebih dari itu, PKBM mengusung filosofi bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan mencetak prestasi akademik, tetapi juga membangun karakter, budi pekerti, dan keterampilan hidup.


“PKBM Reksonegaran menerapkan model belajar yang luas dan adaptif, menggabungkan pendidikan setara sekolah formal dengan penguatan karakter dan pelatihan keterampilan. Kami ingin memastikan peserta didik memiliki bekal yang lengkap untuk menghadapi tantangan zaman,” jelas Sudarmaji sembari mengatakan bahwa para siswa dibekali berbagai life skills seperti komputer dasar, kewirausahaan, public speaking, seni, olahraga, serta ragam kegiatan sesuai minat mereka.


Dalam peninjauannya, Wakil Wali Kota Wawan Harmawan mengapresiasi model belajar berbasis kebutuhan yang diterapkan PKBM. Ia menilai pendekatan tersebut sangat relevan dengan era teknologi dan kecerdasan buatan (AI). 


“Anak-anak muda sekarang lebih utamanya, belajar itu tidak ada sekat, tidak ada batas, di mana pun kita bisa belajar," ujar Wawan.


Ia juga memuji keberagaman prestasi siswa, mulai dari akademik hingga olahraga dan seni. Namun Wawan menekankan bahwa pembentukan karakter yang dijalankan PKBM adalah hal yang paling berharga. Sebab menurutnya budi pekerti, unggah-ungguh, rasa hormat, dan nilai luhur sebagai bagian dari identitas kawula muda di Yogyakarta.



“Kalau sebagai anak muda, tidak menghargai orang tua, itu yang masalah besar. Di mana pun prestasi boleh, tapi budi pekerti adalah yang paling utama,” tandasnya.


Dengan perpaduan antara fleksibilitas pembelajaran, e-learning, penguatan karakter, dan pelatihan keterampilan, PKBM Reksonegaran menunjukkan bahwa pendidikan nonformal memiliki potensi besar untuk menjadi pilihan utama masyarakat. Lembaga ini terus berupaya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya setara, tetapi juga relevan dan berpihak pada kebutuhan peserta didik di era modern. (Esha/NA/AS)