Wamendikdasmen Tekankan Peran SMK Hadapi 5 Perubahan Besar Penentu Masa Depan Pangan Indonesia
Jakarta, 10 Desember 2025 – Sekolah menengah kejuruan (SMK) memiliki potensi strategis untuk mendukung ekosistem ketahanan pangan nasional. Berbagai program pengembangan SMK pertanian diarahkan untuk menyiapkan lulusan yang kompeten, berjiwa wirausaha, menguasai teknologi pertanian modern, serta peka pada isu keberlanjutan.
Dalam kegiatan Simposium Penyelarasan dan Revitalisasi Vokasi Bidang Ketahanan Pangan yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) pada Senin (8/12) di Jakarta, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, menekankan bahwa ketahanan pangan tidak lagi dapat dipandang dengan pendekatan masa lalu.
Menurut Wamen Atip, terdapat lima perubahan besar yang akan mendefinisikan masa depan sektor pangan Indonesia. Lima sektor tersebut antara lain pangan akan semakin berbasis data dan teknologi, sistem pangan akan bergerak menuju keberlanjutan, rantai pasok pangan akan semakin pendek dan berbasis lokal, regenerasi pelaku sektor pangan menjadi isu krusial, dan pangan bernilai ekonomi tinggi sebagai bagian ketahanan nasional.
Sektor pangan akan mengalami perubahan fundamental dalam kurun waktu 5–10 tahun ke depan dan harus diantisipasi, khususnya melalui pendidikan vokasi dan SMK bidang pangan. “Kita tidak hanya berbicara soal cukup atau tidaknya pangan, tetapi juga menyangkut ketahanan sistem produksi, ketahanan rantai pasok, dan ketahanan sumber daya manusianya,” ucap Wamen Atip.
Menghadapi perubahan tersebut, ada beberapa hal yang harus segera diadaptasi bersama, seperti transformasi kompetensi menuju food-tech dan agri-tech, pembelajaran berbasis masalah nyata dan projek produksi, penguatan kompetensi green skills, penyelarasan SMK dengan potensi daerah, dan transformasi peran guru dan kemitraan industri.
“Ketahanan pangan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh lahan dan teknologi, tetapi juga oleh kualitas SDM yang mampu mengelolanya. SMK bidang pangan adalah investasi strategis bangsa menjaga ketersediaan pangan, meningkatkan daya saing produk, dan memastikan keberlanjutan sektor ini,” tegas Wamen Atip.
Wamen Atip berharap seluruh pemangku kepentingan menjadikan momentum ini sebagai langkah konkret memperkuat pendidikan vokasi di bidang pangan. “Mari kita pastikan SMK pangan menjadi garda depan transformasi sistem pangan nasional, dan juga sebagai motor penggerak kemandirian bangsa. Mari kita bangun masa depan pangan Indonesia yang tangguh, inovatif, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sumber: Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor: 884/sipers/A6/XII/2025
#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah