Jangan Takut Ajak ABK Silaturahmi dengan Tips Ini ya, Mom
Jakarta, Ditjen Vokasi PKPLK - Kegiatan silaturahmi atau mengunjungi rumah kerabat menjadi salah satu agenda penting saat merayakan lebaran. Bagi keluarga besar, momen ini biasanya menjadi ajang untuk berkumpul bersama seluruh anggota keluarga, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, bahkan orang tua.
Alih-alih bahagia dan senang bisa berkumpul bersama seluruh anggota keluarga, bagi orang tua dengan anak berkebutuhan khusus (ABK), momentum berkumpul bersama keluarga besar kerap menjadi tantantangan tersendiri. Mereka kerap dihadapkan dengan berbagai kemungkinan, seperti anak yang tidak nyaman atau bahkan bisa tantrum.
Lantas, seperti apa tip yang bisa dilakukan orang tua dengan anak disabilitas?
Angga Pratama Armadi Putra, guru pendamping khusus dari Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Pekalongan, Jawa Tengah menyampaikan bahwa hal utama yang harus dilakukan orang tua saat membawa putra-putri mereka yang ABK bersilaturahmi dalam keluarga besar adalah menciptakan suasana yang nyaman bagi anak. Anak tidak perlu langsung dipaksa untuk bersalaman atau berbaur dengan seluruh anggota keluarga yang sedang berkumpul.
“Ciptakan dulu "ruang" yang nyaman bagi anak. Jangan paksa mereka untuk langsung bersalaman dengan kakek atau neneknya atau saudara-saudara lainnya. Apalagi, jika mereka selama ini memang jarang bertemu dan berinteraksi karena berbeda kota misalnya,” terang Angga.
Orang tua, lanjut Angga, bisa membawa anak ke satu ruangan yang tenang sembari memberikan penjelasan terkait dengan keadaan yang akan anak-anak berkebutuhan khusus ini hadapi.
"Terutama bagi anak-anak dengan kondisi tertentu, ya, seperti anak dengan autisme misalnya dan mereka baru melakukan perjalanan yang cukup jauh misalnya," tambah Angga.
Setelah si anak tenang dan siap, orang tua bisa mulai mempersilahkan anak-anak untuk berbaur dan berinteraksi dengan keluarga besar.
“Bagi anggota keluarga lainnya sebaiknya juga tidak perlu terlalu berlebih dalam memperlakukan ABK ini. Biasa saja. Misalnya tidak perlu dilihat terus menerus anak ini karena ini bisa membuat anak tidak nyaman,” tambah Angga.
Saat anak mulai nyaman, Angga percaya anak akan bisa berinteraksi dengan anggota keluarga lainnya. Mereka akan gembira dan ikut berbaur dengan seluruh anggota keluarga besar.
“Yang pasti orang tuanya harus memberikan pemahaman ya, apa yang bisa dan tidak boleh dilakukan oleh anak saat kondisi tersebut,” ujarnya.
Lantas, apakah boleh anak berkebutuhan khusus menerima THR saat kumpul keluarga besar ini? Bagi Angga, sebaiknya ABK tidak perlu diberikan angpao Lebaran. Selain mereka belum tentu si anak mengerti tentang uang, salah-salah justru uang tersebut akan digunakan untuk hal-hal yang akan merugikan dirinya.
“Misalnya, malah dibelikan jajanan seperti permen atau ciki-ciki yang bisa saja justru dampaknya tidak baik ke si anak ini sendiri,” tambah Angga.
Alih-alih memberikan uang, Angga lebih memilih untuk memberikan sesuatu kepada ABK. Misalnya, seperti pensil warna atau permainan yang bisa menstimulus perkembangan mereka.
Orang tua, lanjut Angga, juga harus berhati-hati dalam memperhatikan makanan yang dikonsumsi anak mereka saat kumpul bersama keluarga. Orang tua harus memastikan bahwa apa yang dikonsumsi anaknya tidak akan berdampak nantinya.
“Kita tahu misalnya anak-anak autis itukan sebaiknya makanannya itu gluten free. Padahal biasanya saat Lebaran itukan pasti banyak tepung-tepungan seperti kukis misalnya. Ini harus diperhatikan,” ujar Angga. (Nan/NA/AS)
Sumber foto : Freepik