Business Matching SMK, Jembatan Ide Bisnis Murid SMK dengan Kebutuhan Industri

Business Matching SMK, Jembatan Ide Bisnis Murid SMK dengan Kebutuhan Industri

Jakarta, Ditjen Vokasi PKPLK – Gelar Karya Vokasi PKPLK 2025 yang digelar pada 17 s.d. 18 Desember 2025 lalu oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) tidak hanya menjadi ruang untuk memamerkan hasil karya satuan pendidikan vokasi PKPLK, tetapi juga ruang strategis untuk mempertemukan ide, inovasi, dan kebutuhan nyata dunia usaha dan dunia industri (DUDI). 


Business Matching menjadi salah satu rangkaian acara Gelar Karya Vokasi PKPLK 2025 yang menjadi daya tarik tersendiri, khususnya bagi satuan pendidikan SMK. Melalui rangkaian ini, satuan pendidikan SMK diberikan ruang untuk menuangkan ide bisnis kreatif dan inovatif yang dikembangkan oleh murid SMK yang dipresentasikan secara langsung kepada mitra industri. 


Tidak sekadar memamerkan produk, rangkaian ini juga menjadi forum dialog dua arah, tempat satuan pendidikan mendapatkan masukan profesional, sekaligus membuka peluang kerja sama berkelanjutan.


Direktur Sekolah Menengah Kejuruana, Arie Wibowo Khurniawan, menyampaikan bahwa rangkaian ini merupakan bagian penting dari upaya memperkuat ekosistem pendidikan vokasi yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja. Menurutnya, pendidikan vokasi tidak bisa berjalan sendiri tanpa keterhubungan yang kuat dengan DUDI. 


“Melalui business matching, ide-ide bisnis murid SMK diuji langsung dengan kebutuhan industri. Inilah proses pembelajaran nyata yang tidak hanya melatih keterampilan teknis, tetapi juga pola pikir kewirausahaan,” ucap Arie.


Beragam ide bisnis dari 309 SMK, mulai dari produk olahan pangan berbasis potensi lokal, teknologi terapan sederhana untuk mendukung efisiensi usaha, hingga jasa kreatif yang selaras dengan perkembangan industri digital dipilah dan dipilih hingga dihasilkan 5 ide bisnis terbaik. Ide-ide tersebut lahir dari pembelajaran berbasis proyek yang selama ini dikembangkan di SMK, sekaligus menjawab tantangan industri yang membutuhkan inovasi praktis dan aplikatif.


Bagi murid SMK, ruang ini menjadi kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan pelaku industri. Mereka belajar mempresentasikan ide secara profesional, menerima kritik konstruktif, dan memahami standar industri. 


Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh murid SMKN 3 Mandau, Bengkalis, Riau, Yesika. Menurutnya, business matching membantunya melihat potensi pengembangan produk untuk menyempurnakan ide yang telah ada sekaligus belajar melihat peluang lain.


“Di sini kami banyak melihat ide-ide luar biasa dari peserta lain dan melalui ruang ini juga kami bisa berdiskusi langsung dengan dewan juri. Masukan-masukan tersebut membuat kami lebih tahu arah pengembangan bisnis ini ke depan,” Ucap Yesika. 


Sementara bagi DUDI, kegiatan ini menjadi langkah konkret untuk menjaring talenta muda sekaligus inovasi dari dunia pendidikan. Industri tidak hanya berperan sebagai pengguna lulusan, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam proses pembelajaran. Masukan yang diberikan mencakup aspek kualitas produk, keberlanjutan bisnis, hingga kesiapan pasar, dapat menyempurnakan ide bisnis murid sehingga dapat berkembang lebih matang. (Aya/NA/AS)