Cerita LKP Belva Dorong Kemandirian Finansial Masyarakat Demak dari Busana
Demak, Ditjen Vokasi PKPLK - Mendidik dan memberdayakan masyarakat rupanya jadi panggilan hidup Sulikah. Dia mendirikan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Belva di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, yang membekali masyarakat dengan keterampilan menjahit tata busana dan garmen sehingga mereka bisa bekerja dan mandiri ekonomi.
Perjalanan Sulikah dalam memberdayakan masyarakat dimulai semenjak tahun 2000, berawal dari satu mesin jahit manual. Ia semula hanya mengajar ekstrakurikuler menjahit di sekolah dasar tempatnya mengabdikan diri. Namun, keresahan muncul ketika melihat banyak pengangguran di desa, terutama para ibu muda.
Membaca gap antara lowongan pekerjaan menjahit dan tenaga kerja dan bekal kemampuan menjahit itulah Sulikah melangkah maju. Dia berhasil menyakinkan empat orang untuk dia ajarkan keterampilan menjahit secara cuma-cuma.
“Mereka kalau mau menjahit ya gantian,” kenang Sulikah.
Sulikah ingat betul, satu mesin jahit seharga Rp1.500.000,00 itu masih terus berjuang untuk berlatih peserta didiknya yang terus bertambah. Dari empat orang sampai jadi 20 peserta kursus, harus bersabar berbagi waktu berlatih. Kondisi tersebut bertahan selama dua tahun, hingga kemudian dia kembali membeli mesin jahit secara kredit sebanyak empat unit.
Tingginya antusiasme masyarakat yang ingin belajar menjahit membuat Sulikah memutuskan untuk mulai membuka kelas berbayar. Meski demikian, dia tidak memaksa soal biaya. Peserta bisa membayarnya setelah penempatan kerja dan mendapat honor.
Kini, 25 tahun sudah perjalanan Sulikah memberdayakan masyarakat Demak dengan keterampilan menjahit. Dari satu mesin jahit di rumahnya, LKP Belva sudah berkembang dengan empat cabang yang masing-masing memiliki 100 unit mesin jahit. Setiap minggu, lembaganya dapat menyalurkan sekitar 50 peserta didik di dunia kerja.
“Kalau ada yang gagal tes, kami dampingi sampai bisa kerja. Satu bulan kerja, kami kunjungi ke pabrik sekalian evaluasi lembaga. Kalau ada peserta dapat penilaian C di pabrik, kita lakukan evaluasi berkelanjutan.” jelas Sulikah.
Kolaborasi dan Mengejar Relevansi
Sulikah menyadari perkembangan dunia industri begitu cepat, sementara langkahnya tidak bisa menyamakan sejajar. Namun, dia tidak lantas menyerah. Sulikah terus menjalin kolaborasi baik dengan industri, dunia kerja, dan tak terkecuali pemerintah daerah, dinas pendidikan, maupun usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Kami selalu datang ke industri baik untuk kerja sama penempatan peserta kursus atau pemutakhiran teknologi. Instruktur juga kita minta belajar di industri supaya peserta kursus tidak ketinggalan. Industri juga senang sudah dapat pekerja terlatih dan kompeten,” tutur Sulikah.
Sulikah juga terus mengupayakan kesempatan pelatihan dapat menjangkau lebih banyak orang, terutama yang secara ekonomi tidak memiliki kemampuan membayar kursus. Apalagi, anak-anak tidak sekolah (ATS) atau anak putus sekolah (APS) dan menganggur. Dia bersyukur, keinginan itu sevisi dengan program prioritas nasional Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), yang diselenggarakan Direktorat Kursus dan Pelatihan melalui program Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK).
“Kami sudah akses program PKK sejak 2018. Biasanya kami terima (peserta didik) sampai 100 peserta, tapi untuk tahun 2025 hanya 54. Semua lulusan kami bantu penempatan kerja di industri,” kata Sulikah. (Dit. Suslat/Zia/AS)