Dari Mojotengah, PKBM Cemerlang Hadirkan Harapan Lewat Pendidikan Nonformal
Wonosobo, Ditjen Diksi PKPLK – Berangkat dari keprihatinan terhadap rendahnya tingkat pendidikan, lemahnya kondisi ekonomi masyarakat, serta tingginya kasus perempuan marjinal di Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Cemerlang hadir sebagai ruang belajar sekaligus ruang pemulihan sosial. Tingginya angka perceraian, kasus KDRT, dan putus sekolah khususnya pada perempuan menjadi latar yang mendorong lahirnya lembaga pendidikan nonformal ini.
Pendiri PKBM Cemerlang, Anna Wardiyanti, menuturkan bahwa lembaga ini didirikan pada tahun 2010 sebagai respon nyata atas persoalan yang terjadi di masyarakat sekitar. Sejak berdiri, PKBM Cemerlang telah membina sekitar 13.000 warga belajar dan alumni dari berbagai latar belakang usia dan kondisi sosial.
“Awal mula pendirian PKBM Cemerlang atas dasar keprihatinan dari tingkat ekonomi dan tingkat pendidikan yang rendah, serta tingginya kasus perempuan marjinal di Mojotengah. Kami ingin pendidikan bisa menjadi jalan keluar,” ujarnya.
Dalam pengelolaannya, Anna menerapkan strategi manajemen yang disebut Bintang Cemerlang yang merupakan akronim dari berkorban, inovatif, niat, tingkatkan, dan aksi untuk menggapai masa depan yang cemerlang. Strategi ini menjadi ruh dalam setiap proses pembelajaran, mulai dari input, proses, hingga outcome warga belajar.
Pendekatan tersebut tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas warga belajar menjadi lebih cerdas dan terampil, tetapi juga mengangkat kredibilitas lembaga. Pada tahun 2014, PKBM Cemerlang berhasil meraih Juara 1 Nasional Lomba Pengelola PKBM se-Indonesia, yang membuka akses kemitraan lebih luas dan memperkuat kepercayaan masyarakat.
Salah satu keunikan PKBM Cemerlang adalah komitmennya menyediakan pendidikan gratis untuk semua usia tanpa memandang latar belakang. Operasional lembaga ditopang dari pengelolaan unit-unit usaha yang dibangun bersama peserta didik dan para alumni. Model ini menjadikan PKBM tidak hanya sebagai pusat pendidikan, tetapi juga pusat pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas.
Dampak pembelajaran di PKBM Cemerlang dirasakan langsung oleh para warga belajar. Aziz, salah satu warga belajar, mengaku bergabung bukan semata-mata untuk mengejar ijazah, tetapi sebagai sarana pengembangan diri.
“Saya terpikir masuk PKBM Cemerlang bukan hanya karena mengejar ijazah, melainkan sebagai sarana pengembangan diri. Saya berinovasi membuat kompor dari bahan bekas. Selain meminimalisir pengeluaran karena gas yang semakin langka, barang yang tidak berguna bisa menjadi berguna kembali, walaupun dalam wujud yang berbeda,” tuturnya.
Hal serupa dirasakan Somadiyah, warga belajar lainnya. Ia tidak hanya mendapatkan pembelajaran akademik, tetapi juga keterampilan praktis yang bisa langsung dimanfaatkan.
“Banyak yang saya dapatkan dari pembelajaran akademik, dan di sini juga ada kursus. Saya mengambil kursus menjahit dan diajarkan membuat tas,” katanya.
Kisah Aziz dan Somadiyah menjadi gambaran bahwa PKBM Cemerlang bukan sekadar tempat mengejar ijazah kesetaraan, melainkan ruang tumbuh untuk keterampilan, kepercayaan diri, dan kemandirian ekonomi.
“Pendidikan, keterampilan, dan kewirausahaan untuk meningkatkan kualitas hidup adalah hak setiap orang. PKBM Cemerlang hadir untuk mewujudkannya,” tegas Anna.
Kini, PKBM Cemerlang tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang transformasi sosial bagi masyarakat yang selama ini terpinggirkan dari akses pendidikan. Harapannya, lembaga ini terus berkembang dan memberi dampak nyata bagi masyarakat luas.
“Apa pun yang dibayangkan dengan sungguh-sungguh, dipercaya dengan sepenuh hati, dan dilakukan dengan penuh antusias, tidak mungkin tidak terwujud,” tutup Anna penuh keyakinan. (Esha/NA/AS)