Dari Pesisir Banyuwangi, PKBM Aliza Menyalakan Harapan Warga Putus Sekolah
Banyuwangi, Ditjen Diksi PKPLK – Di Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi, berdiri sebuah lembaga pendidikan nonformal yang sejak 2010 konsisten menjadi jembatan harapan bagi masyarakat putus sekolah. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Aliza yang beralamat di Jl. Ikan Tombro No. 23 tumbuh dari kepedulian warga setempat terhadap tingginya angka anak putus sekolah di wilayah pesisir.
Pendiri sekaligus Kepala PKBM Aliza, Asmaniah, mengungkapkan bahwa satuan pendidikan ini lahir bukan dari perencanaan besar, melainkan dari kegelisahan sosial yang nyata di lingkungan sekitar.
Ia melihat banyak anak di wilayah pesisir Karangrejo yang tidak lagi bersekolah setelah lulus SD, kemudian memilih bekerja sebagai nelayan atau pekerjaan lain untuk membantu keluarga.
“Kita terketuk, ingin sekali mengentaskan mereka dan bagaimana mereka mendapatkan pendidikan ke jenjang berikutnya dan mendapatkan pekerjaan yang layak,” ungkap Asmaniah.
Pada masa awal berdiri, PKBM Aliza bahkan belum memiliki program kesetaraan. Kegiatan pertama yang dijalankan adalah program keaksaraan untuk membantu warga yang masih buta huruf, terutama masyarakat pesisir yang jauh dari pusat layanan pendidikan.
“Waktu PKBM pertama berdiri, belum ada program kesetaraan. Baru ada program keaksaraan untuk mengentaskan warga belajar yang buta huruf. Warga belajar pertama kita itu dari pinggir pesisir yang memang jauh dari tempat kita,” jelasnya.
Seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat, PKBM Aliza mulai menyelenggarakan Paket A, Paket B, dan Paket C setara SD, SMP, dan SMA. Dari awalnya hanya 70 warga belajar, jumlah tersebut terus berkembang seiring meningkatnya kepercayaan masyarakat.
Salah satu ciri khas PKBM Aliza adalah keberagaman latar belakang warga belajarnya. Tempat ini menjadi ruang belajar bagi siapa saja, tanpa batas usia, pekerjaan, maupun status sosial. Asmaniah mengungkapkan, warga belajar yang terlibat di PKBM tersebut datang dari semua kalangan. Banyak dari mereka yang sudah berusia tua
“Ada juru parkir, satpam, dan lain-lain. Mereka butuh ijazah karena tidak mau kehilangan pekerjaan,” tutur Asmaniah.
Tidak hanya sekadar menghadirkan layanan kesetaraan, PKBM Aliza juga memberikan berbagai pelatihan kecakapan hidup bagi warga belajar, seperti menjahit, membuat hantaran, hingga mengolah produk makanan. Pendekatan ini membuat pendidikan di PKBM tersebut tidak berhenti pada ijazah, tetapi berlanjut pada kemandirian ekonomi warga belajar.
“Harapan kita ketika warga belajar keluar dari PKBM, mereka bisa langsung mempraktikkan keahlian mereka,” kata Asmaniah.
Bagi warga belajar, PKBM Aliza menjadi ruang untuk memperbaiki masa depan. Hal tersebut diungkapkan Sulamto, salah seorang warga belajar yang berprofesi sebagai juru parkir. Baginya, usia bukanlah halangan untuk belajar, karena ia sangat semangat sekali untuk melanjutkan pendidikan dan mendapatkan ijazah.
“Meskipun saya seorang juru parkir, semangat saya besar untuk mendapatkan ijazah. Dengan ijazah saya bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Mahfud Syahri, warga belajar yang bekerja sebagai satpam. Meskipun usianya sudah lanjut, Syahri ingin tetap menempuh pendidikan, bahkan ia ingin ke jenjang yang lebih tinggi.
“Walaupun umur tua, kita harus semangat. Umur bukan batasan. Di mana ada ilmu, di sana saya belajar. Saya ingin kuliah dan mencari ilmu lebih tinggi lagi,” tuturnya.
Konsistensi PKBM Aliza selama bertahun-tahun telah melahirkan lulusan yang kreatif dan mandiri. Sebagian mampu membuka usaha sendiri, sebagian lainnya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ke depan, PKBM Aliza memiliki visi yang lebih besar, yakni menciptakan ruang usaha bagi para lulusannya.
“Kami ingin menyiapkan lapangan usaha untuk warga belajar. Ketika mereka sudah sukses, kami ingin mengajak kembali mereka ke tempat kita, bukan lagi untuk belajar, tapi untuk berwirausaha,” tutup Asmaniah.
Ia juga berharap, masyarakat yang masih putus sekolah tidak ragu untuk bergabung dengan PKBM karena pendidikan tidak mengenal batas usia dan kesempatan selalu terbuka untuk semua, dan PKBM ada di mana saja. (Esha/NA/AS)