Harmoni Lembaga Kursus, Pemda, dan Industri, Kunci Siapkan Tenaga Kerja Terampil

Harmoni Lembaga Kursus, Pemda, dan Industri, Kunci Siapkan Tenaga Kerja Terampil

Klungkung, Ditjen Vokasi PKPLK - Dalam upaya mewujudkan partisipasi semesta di ranah kursus dan pelatihan, kolaborasi bersama industri dan pemerintah daerah menjadi kunci siapkan tenaga profesional. Untuk mewujudkan tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Kursus dan Pelatihan, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus menyelenggarakan Konsolidasi Kemitraan Strategis Industri, Lembaga Kursus, dan Dinas Pendidikan di Klungkung, Bali, Selasa (27/1). 


Dalam sambutannya, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, kembali menekankan kepada lembaga kursus untuk terus menjalin kolaborasi dengan industri, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan terkait dalam kaitannya dengan penguatan kelembagaan. Selain itu, potensi pariwisata yang besar, perlu diimbangi dengan berbagai soft skills, seperti penguasaan bahasa.


“Bahasa adalah hal utama. Oleh karena itu, setiap lembaga kursus perlu ada penguatan bahasa. Tak hanya bahasa Inggris, tetapi bahasa asing lainnya,” pesan Wamendikdasmen Atip.


Sejalan dengan Wamen Atip, Direktur Kursus dan Pelatihan, Yaya Sutarya, pun mendorong agar kesempatan ini dapat menjadi momen untuk merumuskan arah kebijakan agar mampu mengembangkan ekosistem pendidikan nonformal yang adaptif.


“Kita perlu memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, industri, dan juga mitra strategis lainnya dalam penyiapan lulusan kursus dan pelatihan,” ujar Direktur Yaya.


Tren Kerja Di Luar Negeri


Kegiatan ini menjadi uang dialog untuk menyamakan persepsi, memperkuat kolaborasi, serta merumuskan arah pengembangan lembaga kursus. Salah satu narasumber, I Wayan K.  Sugita selaku perwakilan industri PT Dwipari Abadi Mandiri, mengungkapkan potensi besar lembaga kursus.


“Lembaga kursus pun harus mengutamakan kearifan lokal. Sebagai contoh pelajari juga adat dan pijat tradisional seperti apa dan taat pada etika. Dengan begitu, ketika mereka ke luar negeri mengangkat nilai-nilai Indonesia,” terang Wayan


Dari sisi Kamar Dagang Indonesia Provinsi Bali yang diwakili oleh Ni Nengah Sudiasih, mengungkapkan bahwa perlu adanya sinkronisasi kebutuhan tenaga kerja dan ketersediaan SDM. Hal ini lah yang sering kali kurang sejalan di Indonesia karena masih ada tantangan di ketersediaan lapangan kerja. 


“Memang, trennya sekarang anak-anak adalah bekerja ke luar negeri. Untuk itu, keterampilan tentang kebudayaan di negara tujuan juga tak kalah penting. Persiapkan juga dengan keterampilan Emotional Spiritual Quotient (ESQ),” pesan Sudiasih.


Sebagai salah satu lembaga kursus yang sukses melatih lulusan ke luar negeri, Overseas Training Centre (OTC) Bali pun membagikan praktik baik. Hal ini mampu memotivasi lembaga kursus lainnya dalam mempersiapkan lulusan untuk berkarier di kancah global. 


“Selain penguasaan keterampilan hospitality dan soft skills lainnya, kami melakukan kerja sama dengan industri di luar negeri. Hal inilah yang menjadi fokus utama untuk menyukseskan keberkerjaan lulusan,” ungkap Direktur OTC Bali, I Wayan Rediyasa. (Zia/NA/AS)