Jemput Bola ke Kelurahan, PKBM Permata Unggul Kembalikan Harapan Anak Putus Sekolah di Sleman

Jemput Bola ke Kelurahan, PKBM Permata Unggul Kembalikan Harapan Anak Putus Sekolah di Sleman

Sleman, Ditjen Diksi PKPLK – Upaya pengentasan anak tidak sekolah (ATS) dan anak berpotensi putus sekolah di Kabupaten Sleman dilakukan secara nyata oleh Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Permata Unggul. Tidak hanya membuka pendaftaran, lembaga pendidikan nonformal ini aktif turun langsung ke kelurahan-kelurahan untuk memastikan setiap anak tetap memiliki kesempatan belajar.


Suyono, pengelola sekaligus tutor PKBM Permata Unggul, menjelaskan bahwa biasanya langkah awal yang dilakukan adalah memetakan data anak tidak sekolah di wilayah Kapanewon Kalasan. Berdasarkan data tersebut, tim PKBM kemudian mendatangi kelurahan seperti Purwomartani, Tirtomartani, Tamanmartani, dan Selomartani untuk melakukan sosialisasi langsung.


“Kami membagikan brosur ke seluruh dukuh, lalu dibagikan lagi ke warga. Setelah itu kami juga mencoba melacak langsung beberapa keluarga,” ujar Suyono.


Dari penelusuran tersebut, ditemukan beragam alasan anak tidak melanjutkan pendidikan. Alasannya menurut Suyono, ada yang sudah menikah, ada yang memilih bekerja, hingga ada yang terkendala biaya. Bagi PKBM, kondisi-kondisi inilah yang menjadi fokus perhatian.


Pendekatan persuasif dan dialog kekeluargaan menjadi kunci. Hasilnya mulai terlihat. Dua orang tua datang langsung ke PKBM untuk mendaftarkan putra-putrinya setelah mendapatkan informasi dari sosialisasi tersebut.


Di antara warga belajar yang kini kembali menempuh pendidikan adalah Afid Feri Yudhistira. Ia sempat putus sekolah karena harus menjalani perawatan akibat diabetes tipe 1 hingga opname di rumah sakit.


“Aku punya riwayat sakit diabetes tipe 1 dan sempat opname, itu alasan saya putus sekolah. Setelah diperkenalkan dengan PKBM Permata Unggul, saya bisa lanjut sekolah sampai kelas 11 Paket C. Sekolah di sini senang, dapat teman, pembelajarannya menyenangkan,” ungkap Afid.




Kisah serupa datang dari Raka Ilaagaligo yang sempat tidak bersekolah karena terkendala administrasi. Hambatan tersebut membuatnya berhenti belajar untuk sementara waktu.


“Berkat PKBM Permata Unggul saya bisa bersekolah lagi. Rasanya senang bisa bertemu teman-teman, tempatnya juga seru,” katanya.


Bagi PKBM Permata Unggul, pendidikan bukan hanya soal ijazah kesetaraan Paket A, B, atau C. Lebih dari itu, PKBM menjadi ruang kesempatan kedua, tempat anak-anak dan remaja yang sempat terhenti pendidikannya menemukan kembali rasa percaya diri dan semangat belajar.


“Harapan kami, anak-anak yang berpotensi putus sekolah dan yang sudah tidak sekolah bisa kembali belajar sehingga mendapatkan pendidikan yang layak,” tegas Suyono. (Esha/NA/AS)