PKBM An-Nur Ibun, Tempat Ijazah Bertemu Keterampilan dan Penghasilan
Depok, Ditjen Diksi PKPLK - PKBM An-Nur Ibun di Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung bukan sekadar tempat warga menyelesaikan pendidikan kesetaraan. Lembaga ini tumbuh menjadi ruang pemberdayaan yang mempertemukan pendidikan, keterampilan hidup, dan kemandirian ekonomi masyarakat, terutama bagi perempuan.
Produk pemberdayaan ini kemudian dihadirkan oleh PKBM An-Nur Ibun dalam Pameran Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah (Konsolnas Dikdasmen) 2026 yang diselenggarakan di Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kemendikdasmen, 9—11 Februari 2026. Berbagai produk, utamanya produk fesyen yang digarap dari bahan tekstil lokal memberikan warna tersendiri dalam pameran tersebut
Cikal bakal PKBM An-Nur Ibun dimulai pada 2004, ketika Tjijih Rukaesih mendirikan ruang pendidikan nonformal dengan satu niat sederhana, yaitu memastikan masyarakat sekitar tetap memiliki akses pada pendidikan yang layak. Yanti Lidiati, pembina PKBM An-Nur Ibun, yang juga merupakan anak dari Tjijih Rukaesih mengungkapkan bahwa niat ibunya hanya ingin masyarakat di sekitar mendapatkan pendidikan yang layak. Namun, seiring waktu lembaga ini berkembang menghadirkan Paket B, Paket C, taman bacaan, hingga program pemberdayaan ibu-ibu melalui kewirausahaan.
Yanti sendiri baru terlibat aktif pada 2011. Sebelumnya, ia bekerja di Jakarta. Namun, ketika sang ibu sakit, ia memutuskan pulang dan mulai mengelola PKBM meskipun saat itu ia belum benar-benar memahami apa itu PKBM.
“Awalnya saya tidak tahu PKBM itu apa. Tapi setelah saya datang, saya melihat dulu, memetakan kebutuhan masyarakat. Pada saat itu saya melihat potensinya sangat besar,” ujar Yanti.
Potensi yang ia maksud bukan gedung atau fasilitas, melainkan sumber daya manusia di sekitarnya terutama ibu-ibu yang setiap pagi tidak memiliki aktivitas produktif. Ia melihat banyak ibu-ibu menganggur dan mereka hanya tamatan hanya tamatan SD dan SMP.
“Mereka tidak bisa berkarya dan merasa tidak bisa apa-apa. Saya kemudian tanya mereka mau punya pendapatan? Syaratnya hanya satu, harus lulus SMA,” kata Yanti sembari mengatakan sejak saat itu para ibu berlomba-lomba mengikuti Paket B dan Paket C.
Pendidikan dan Keterampilan Nyata
PKBM An-Nur Ibun kemudian berkembang menjadi ruang belajar yang tidak hanya memberikan ijazah kesetaraan, tetapi juga keterampilan hidup yang aplikatif. Berbagai bantuan program pemerintah seperti PKW dimanfaatkan sebagai modal awal untuk membangun pelatihan berbasis vokasi.
Untuk usia sekolah, PKBM bahkan membuka jalur formal dengan jurusan listrik, sepeda motor, dan tata busana. Sementara untuk ibu-ibu, pemberdayaan dilakukan berdasarkan pemetaan minat dan kemampuan.
“Kalau mereka hobinya menjahit, kami masukkan ke bagian menjahit. Setelah kita mapping, ternyata banyak kemampuan mereka itu di memasak dan menjahit. Itu yang kemudian kami olah,” teang Yanti.
Pelatihan yang diberikan bukan sekadar belajar menjahit atau memasak, tetapi bagaimana menghasilkan produk yang layak jual dan diterima pasar.
“Kami tidak hanya memberikan pembelajaran memasak, tapi juga bagaimana membuat produk yang bisa diterima masyarakat luas,” lanjutnya.
Inovasi dari Tekstil Lokal
Dari pemetaan kemampuan menjahit inilah kemudian lahir inovasi yang kini dikenal luas, yaitu “It’s Blazer Ibun”. Berangkat dari kain sarung Majalaya, produk tekstil lokal yang mudah ditemukan di sekitar Ibun, para ibu dilatih mengubahnya menjadi blazer modern yang bernilai jual tinggi.
Inovasi ini bukan hanya soal mode, tetapi tentang bagaimana kain tradisional diberi tafsir baru oleh tangan-tangan perempuan desa yang sebelumnya merasa tidak memiliki keterampilan.
Blazer berbahan sarung ini kemudian dipasarkan dalam berbagai pameran, bahkan dikenal hingga ke luar daerah. It’s Blazer Ibun menjadi simbol keberhasilan pendekatan PKBM An-Nur Ibun.
“Saya sudah komitmen memberikan mereka bantuan uang, tapi bentuknya mata pencaharian,” terang Yanti menyatakan bahwa karya ini memberikan dampak bagi masyarakat sekitar.
Apa yang terjadi di PKBM An-Nur Ibun menunjukkan bahwa pendidikan nonformal dapat menjadi pintu masuk perubahan sosial yang nyata. Dari niat awal menyediakan pendidikan untuk semua, kini lembaga ini menjadi pusat lahirnya pelaku-pelaku usaha baru di masyarakat.
Di tangan Yanti Lidiati, warisan nilai yang ditanamkan ibunya berkembang menjadi gerakan pemberdayaan yang sistematis: memetakan kebutuhan, menghubungkan pendidikan dengan penghasilan, dan menjadikan potensi lokal sebagai sumber kemandirian.
PKBM An-Nur Ibun bukan hanya tempat belajar. Ia adalah tempat warga menemukan kembali rasa percaya diri, keterampilan, dan harapan baru melalui karya. (Esha/NA/AS)