Taman Bacaan Masyarakat Berpotensi Memperkuat Literasi Tingkat Dasar

Taman Bacaan Masyarakat Berpotensi Memperkuat Literasi Tingkat Dasar

Jakarta, Ditjen Vokasi PKPLK - Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan Perpustakaan Desa sangat berpotensi untuk memperkuat program literasi di daerah-daerah terpencil. Hal tersebut diterangkan Agus Prayitno, Provincial Manager INOVASI Program Kalimantan Utara, berdasarkan program-program yang sudah dijalankan oleh INOVASI selama tujuh tahun belakangan di beberapa daerah di Kalimantan Utara (Kaltara), dalam webinar nasional yang diselenggarakan Direktorat Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal (PNFI), Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus, Kementerian Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah (26/8).


Dalam materinya bertajuk “Menguatkan Literasi Daerah: Sinergi Taman Bacaan Masyarakat dengan Pelayanan Sekolah dalam Mewujudkan Pendidikan Inklusif di Kalimantan Utara”, Agus menceritakan bagaimana proses tim INOVASI berupaya menghubungkan antara sekolah dan para pegiat TBM di daerah tersebut. 


Agus menceritakan ketika pertama kali masuk ke daerah Kaltara pada tahun 2017, ia dan tim dihadapkan pada persoalan tidak mudah, khususnya masalah literasi. Ia membandingkan anak-anak kelas awal sekolah dasar di daerah Kaltara dengan daerah sekitar Jawa atau daerah lain. Jika di daerah lain, menurutnya, tidak ada persoalan lagi dengan membaca karena anak-anak sudah melewati proses Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-kanak. Akan tetapi, di Kaltara pada tahun tersebut, menurutnya, masih banyak anak-anak kelas awal yang tidak mengenal huruf.


“Kita juga memiliki persoalan guru-guru yang tidak mudah dalam menghadapi anak-anak yang belum siap (sekolah dasar). Jangankan membaca, memegang pensil saja belum bisa, belum lagi dihadapkan oleh pelajaran SD kelas satu yang sudah membawa buku dan kontek-konten yang tidak familiar dengan mereka,” terang Agus.


Temuan-temuan awal itu kemudian dijadikan landasan untuk memperkuat pedagogis guru. Penguatan tersebut tujuannya agar dapat membantu para guru dalam mengajar anak-anak kelas awal atau anak-anak yang dalam kategori belum siap menempuh pendidikan dasar. Dalam praktiknya, pendampingan ini telah dilakukan Agus dan tim INOVASI dari tahun 2018, khususnya di daerah Malinau sampai sekarang.


Temuan kedua pada saat awal di Kaltara tersebut, menurut Agus, adalah bahwa konteks penguatan literasi tidak cukup diajarkan hanya di dalam kelas atau di sekolah. Untuk itu perlu menyediakan sebuah sarana atau tempat yang positif untuk memperkuat literasi. Hal itulah yang membuat INOVASI bekerja sama dengan TBM dan Perpustakaan Desa untuk memfasilitasi anak-anak agar mendapatkan jam tambahan pembelajaran literasi. 




“Itulah kenapa kita punya program sinergi TBM atau Perpustakaan Desa dengan pelayananan sekolah. Kasarnya kita mengawinkan sekolah dengan perpustakaan desa. Pagi hingga siang anak-anak belajar di sekolah, ada penguatan literasi, kemudian sore hari anak-anak terfasilitasi jam belajar melalui TBM,” terangnya.


Pada praktiknya, terang Agus, terdapat temuan-temuan menarik di beberapa kabupaten Kaltara bahwa anak-anak yang belum kenal huruf atau suku kata dapat terbantu, paham, bahkan bisa membaca karena dukungan para pegiat TBM. 


“Karena secara psikologis belajar di dalam kelas beda dengan belajar di luar kelas. Ini merupakan hal-hal baik dan INOVASI sebagai mitra pembangunan daerah berusaha untuk menjadi jembatan mempertemukan pihak-pihak yang memiliki kepentingan untuk bersama-sama menguatkan kolaborasi dan menguatkan sinergi,” kata Agus. (Esha/NA)