Zero Waste, dari Kulit hingga Daging Buah SMKN 2 Batusangkar Olah Melon Tanpa Sisa

Zero Waste, dari Kulit hingga Daging Buah SMKN 2 Batusangkar Olah Melon Tanpa Sisa

Tanah Datar, Ditjen Vokasi PKPLK – Persoalan lingkungan adalah satu isu yang sering dibahas oleh banyak kalangan. Persoalan ini mencakup banyak hal, mulai dari masalah pengelolaan limbah, energi, hingga keseimbangan ekosistem sumber daya alam. 


Isu ini menarik perhatian banyak pihak, salah satunya SMKN 2 Batusangkar, Tanah Datar, Sumatra Barat. Sekolah yang bergerak di bidang pertanian ini berkomitmen untuk menghadirkan pembelajaran yang berkelanjutan dan bermakna salah satunya melalui kegiatan teaching factory (Tefa) melon organik. Komitmen terhadap prinsip keberlanjutan terus ditunjukkan oleh SMKN 2 Batusangkar melalui pengembangan inovasi produk turunan melon berbasis konsep zero waste


SMKN 2 Batusangkar melalui kegiatan Tefa berhasil mengolah melon secara menyeluruh, mulai dari daging buah hingga kulitnya sehingga tidak ada bagian yang terbuang dan menghasilkan sampah. Kepala SMKN 2 Batusangkar, Budi Darmawan, menyampaikan bahwa SMKN 2 Batusangkar memiliki standar ketat untuk buah melon yang akan dipasarkan ke masyarakat terutama dari segi kadar manis dan ukurannya. Melon yang tidak memenuhi standar tersebut kemudian diolah menjadi produk turunan lainnya, seperti selai, sirup, hingga pupuk organik.


“Penerapan pengolahan nol sampah juga menjadi fokus kami bagaimana para murid belajar mengolah hasil pertanian hingga benar-benar semua bagian terolah,” ucap Budi. 

Proses pengolahan ini dirancang mengikuti standar kebersihan dan mutu pangan sehingga murid terbiasa dengan alur produksi yang mendekati praktik industri sesungguhnya. Melalui inovasi produk turunan melon ini, murid didorong untuk berpikir kreatif, solutif, dan berorientasi pada keberlanjutan. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting dalam menyiapkan lulusan yang adaptif terhadap tantangan industri hijau dan ekonomi berkelanjutan.

“Inisiatif ini tidak hanya menghadirkan produk bernilai ekonomi, tetapi juga menjadi media pembelajaran kontekstual bagi murid dalam menerapkan praktik industri ramah lingkungan,” terang Budi. (Aya/NA/AS)